LAPORAN
PRAKTIKUM EKOLOGI PERAIRAN
ACARA II
PENGUKURAN LONGITUDINAL FAKTOR FISIKA KIMIA KUNCI DI SEGARA ANAKAN
Oleh:
Nama : Suhendra
NIM : H1K013028
Kelompok : 3 (tiga)
Asisten : Yusuk K.
JURUSAN PERIKANAN DAN KELAUTAN
FAKULTAS SAINS DAN TEKNIK
UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
PURWOKERTO
2014
I.
PENDAHULUAN
1.1
Latar belakang
Segara
Anakan merupakan laut yang dipisahkan oleh Pulau Nusakambangan dan merupakan
suatu laguna yang dikelilingi oleh hutan rawa-mangrove dan dataran berlumpur (Dirjen
Pemda Depdagri dan PKSPL-IPB, 1999 dalam Pribadi, 2009). Segara Anakan terletak
di Pantai Selatan Pulau Jawa dan secara administratif masuk dalam wilayah
kecamatan Kampung Laut, Kabupaten Cilacap. Bila dipandang dari prespektif
lingkungan hidup, Segara Anakan sangat unik karena terdiri dari laguna berair
payau, hutan mangrove dan lahan dataran rendah yang dipengaruhi pasang surut (Listyaningsih
et al., 2013).
Salinitas
merupakan bagian dari sifat fisika kimia
suatu perairan, selain suhu, pH, substrat dan lain-lain. Salinitas dipengaruhi
oleh pasang surut, curah hujan, penguapan, presipitasi dan topografi suatu
perairan. Akibatnya, salinitas suatu perairan dapat sama atau berbeda dengan
perairan lainnya, misalnya perairan darat, laut dan payau (Nybakken, 1992 dalam
Himmaty,
2013). Pola penyebaran salinitas dapat digunakan sebagai dasar untuk
melihat sejauh mana konsentrasi salinitas dari air laut terdifusi hingga ke
hulu sungai dan sejauh mana pengaruh masukan air tawar terhadap konsentrasi salinitas
di perairan muara sungai (Indah Sari et
al., 2013). Untuk itu penting mengamati perbedaan salinitas di suatu
perairan, khususnya di Segara Anakan, supaya didapat pola salinitas secara
longitudinal di perairan tersebut.
1.2
Tujuan
Praktikum
ini memiliki tujuan yaitu untuk mengetahui pola longitudinal faktor fisik-kimia
kunci di Segara Anakan.
II.
MATERI DAN METODE
2.1
Materi
2.1.1
Alat
Alat
yang digunakan adalah hand refractometer sebanyak 1 unit, tisu, alat
tulis dan stopwatch.
2.1.2
Bahan
Bahan
yang digunakan yaitu air Segara Anakan dan akuades secukupnya.
2.2.1 Prosedur Kerja
Prosedur kerja yang dilakukan pada acara praktikum Pengukuran Longitudinal faktor Fisika-Kimia Kunci di Segara Anakan adalah :
a. Prisma pada
hand refractometer dibersihan terlebih dahulu dengan menggunakan akuades.
b.
Permukaan
prisma dibersihkan dengan menggunakan tissue.
c. Pada bagian
lensa dilihat apakah sudah berwarna biru secara keseluruhan (menandakan skala
sudah berada di posisi 0) dengan cara diteropong.
d.
Air sampel
diteteskan pada permukaan prisma kemudian ditutup.
e.
Dilihat
batas air dan diperhatikan skala yang dicapai dengan cara diarahkan ke arah
sinar matahari.
f.
Pengambilan
sampel sebanyak 2 kali selama 15 menit.
g.
Hasil di
catat.
III.
HASIL DAN PEMBAHASAN
3.1
Hasil
Tabel 1. Hasil pengamatan salinitas perairan Segara Anakan
Waktu
|
Waktu
|
Salinitas
(ppt)
|
|
15’
|
29
|
105’
|
24
|
30
|
25
|
||
30’
|
29
|
120’
|
21
|
28
|
20
|
||
45’
|
28
|
135’
|
21
|
29
|
22
|
||
60’
|
28
|
150’
|
22
|
28
|
23
|
||
75’
|
26
|
165’
|
24
|
25
|
24
|
||
90’
|
25
|
180’
|
28
|
25
|
28
|
Grafik
1. Sebaran longitudinal salinitas perairan Segara Anakan
3.2
Pembahasan
Salinitas
adalah kadar garam terlarut dalam air. Satuan salinitas adalah per mil (‰),
yaitu jumlah berat total (gr) material padat seperti NaCl yang terkandung dalam
1000 gram air laut (Wibisono, 2004 dalam Himmaty, 2013). Air laut, air payau, dan air tawar memiliki tingkat salinitas
yang berbeda, yang sering dinyatakan dengan konsentrasi total padatan terlarut
(Yaningsih, 2014).
Berdasarkan
hasil pengamatan yang telah dilakukan didapat bahwa pola longitudinal salinitas
di perairan Segara Anakan sangat bervariasi mulai dari selatan yang merupakan
laguna Segara Anakan hingga utara yang merupakan rawa mangrove. Salinitas
dimulai dari laguna Segara Anakan secara bertahap terjadi penurunan, kemudian
peningkatan di akhir stasiun pengamatan. Salinitas yang didapat pada saat
pertama kali pengambilan sampel yaitu berkisar 29-30 ppt, kemudian mengalami
penurunan sampai dengan salinitas kisaran 20-21 ppt, kan tetapi setelah itu
mengalami kenaikan kembali sampai dengan 28 ppt. Berdasarkan teori bahwa hal
ini berarti pola longitudinal tersebut menunjukkan perairan yang ditelusuri
yaitu mulai dari perairan laut ke perairan payau lalu ke perairan laut kembali.
Sebagaimana pernyataan Apriani dan Wesen (2010) bahwa air payau adalah air yang
salinitasnya lebih rendah dari pada salinitas rata-rata air laut normal (<35
permil) dan lebih tinggi dari pada 0,5 permil yang terjadi karena pencampuran
antara air laut dengan air tawar baik secara alamiah maupun buatan.
Perbedaan
salinitas di perairan Segara Anakan, selain disebabkan perbedaan jenis
perairan, juga disebabkan oleh faktor fisika kimia. Menurut Nontji (2007)
sebaran salinitas dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti pola sirkulasi air,
penguapan (evaporasi), curah hujan (presipitasi), dan aliran sungai (run off)
yang ada di sekitarnya. Sedangkan menurut Stewart (2002) dalam Furqon (2007)
bahwa sebaran salinitas di perairan estuari sangat dipengaruhi oleh kedalaman,
arus pasang surut, aliran permukaan, penguapan dan sumbangan jumlah air tawar
yang masuk ke perairan laut.
IV.
KESIMPULAN DAN SARAN
4.1
Kesimpulan
Sebagaimana
pernyataan Apriani dan Wesen (2010) bahwa air payau adalah air yang
salinitasnya lebih rendah dari pada salinitas rata-rata air laut normal dan
lebih tinggi daripada air tawar. Oleh karena itu, pola longitudinal faktor
fisika kimia kunci dalam hal ini salinitas di Segara Anakan yaitu dimulai
dengan salinitas berkisar 29-30 ppt, kemudian turun sampai dengan kisaran 20-21
ppt, lalu naik kembali sampai dengan 28 ppt.
4.2
Saran
Untuk
praktikum selanjutnya disarankan agar saat menggunakan alat hand refraktometer
diharapkan lebih teliti dalam menentukan besar salinitas air yang diamati dan
untuk ke depannya agar lebih jelas mekanisme pengamatannya supaya didapat
data yang lebih baik dan dapat
dipertanggung jawabkan.
4.3
DAFTAR PUSTAKA
Apriani, Ratih S. dan Wesen, Putu. 2010. Penurunan Salinitas Air Payau
Dengan Menggunakan Resin Penukar Ion. Envirotek : Jurnal Ilmiah Teknik
Lingkungan, Vol. 2 No. 1: 64-77.
Furqon Aziz, M. 2007. Tipe Eatuari Binuangeun (Banten) Berdasarkan
Distribusi Suhu dan Salinitas Perairan. Oseanologi dan Limnologi. Indonesia.
Himmaty, I., dan Endarko, E. 2013. Pembuatan Elektroda Dan Perancangan
Sistem Capacitive Deionization Untuk Mengurangi Kadar Garam Pada Larutan Sodium
Clorida (NaCl). Berkala Fisika, Vol. 16 No. 3: 67-74.
Indah Sari, C., Surbakti, H., & Fauziyah, F. (2013). Pola Sebaran
Salinitas dengan Model Numerik Dua Dimensi di Muara Sungai Musi. Maspari
Journal, Vol. 5 No. 2.
Nontji, A. 2007. Laut Nusantara. Jakarta: Djambatan
Pribadi, R., Hartati, R., & Suryono, C. A. 2010. Komposisi Jenis dan
Distribusi Gastropoda di Kawasan Hutan Mangrove Segara Anakan Cilacap. Ilmu
Kelautan: Indonesian Journal of Marine Sciences, Vol. 14 No. 2: 102-111.
Yaningsih, I., & Istanto, T. (2014). Studi eksperimental pengaruh laju
aliran massa udara terhadap produktivitas air tawar unit desalinasi berbasis
pompa kalor dengan menggunakan proses humidifikasi dan dehumidifikasi. In Prosiding
Seminar Nasional Sains Dan Teknologi Fakultas Teknik, Vol. 1 No. 1: 7-12.
No comments:
Post a Comment