Sunday, December 21, 2014

Laporan Praktikum Ekoper - Pola Longitudinal Salinitas di Perairan Segara Anakan



LAPORAN PRAKTIKUM EKOLOGI PERAIRAN
ACARA II
PENGUKURAN LONGITUDINAL FAKTOR FISIKA KIMIA KUNCI DI SEGARA ANAKAN





Oleh:
         Nama              : Suhendra
         NIM                : H1K013028
         Kelompok       : 3 (tiga)
         Asisten            : Yusuk K.






JURUSAN PERIKANAN DAN KELAUTAN
FAKULTAS SAINS DAN TEKNIK
UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
PURWOKERTO
2014


I.              PENDAHULUAN
1.1         Latar belakang
Segara Anakan merupakan laut yang dipisahkan oleh Pulau Nusakambangan dan merupakan suatu laguna yang dikelilingi oleh hutan rawa-mangrove dan dataran berlumpur (Dirjen Pemda Depdagri dan PKSPL-IPB, 1999 dalam Pribadi, 2009). Segara Anakan terletak di Pantai Selatan Pulau Jawa dan secara administratif masuk dalam wilayah kecamatan Kampung Laut, Kabupaten Cilacap. Bila dipandang dari prespektif lingkungan hidup, Segara Anakan sangat unik karena terdiri dari laguna berair payau, hutan mangrove dan lahan dataran rendah yang dipengaruhi pasang surut (Listyaningsih et al., 2013).
Salinitas merupakan  bagian dari sifat fisika kimia suatu perairan, selain suhu, pH, substrat dan lain-lain. Salinitas dipengaruhi oleh pasang surut, curah hujan, penguapan, presipitasi dan topografi suatu perairan. Akibatnya, salinitas suatu perairan dapat sama atau berbeda dengan perairan lainnya, misalnya perairan darat, laut dan payau (Nybakken, 1992 dalam Himmaty, 2013). Pola penyebaran salinitas dapat digunakan sebagai dasar untuk melihat sejauh mana konsentrasi salinitas dari air laut terdifusi hingga ke hulu sungai dan sejauh mana pengaruh masukan air tawar terhadap konsentrasi salinitas di perairan muara sungai (Indah Sari et al., 2013). Untuk itu penting mengamati perbedaan salinitas di suatu perairan, khususnya di Segara Anakan, supaya didapat pola salinitas secara longitudinal di perairan tersebut.
1.2         Tujuan
Praktikum ini memiliki tujuan yaitu untuk mengetahui pola longitudinal faktor fisik-kimia kunci di Segara Anakan.
II.           MATERI DAN METODE
2.1         Materi
2.1.1   Alat
Alat yang digunakan adalah hand refractometer sebanyak 1 unit, tisu, alat tulis dan stopwatch.
2.1.2   Bahan
Bahan yang digunakan yaitu air Segara Anakan dan akuades secukupnya.
2.2         Metode

2.2.1    Prosedur Kerja

Prosedur kerja yang dilakukan pada acara praktikum Pengukuran Longitudinal faktor Fisika-Kimia Kunci di Segara Anakan adalah :

a.             Prisma pada hand refractometer dibersihan terlebih dahulu dengan menggunakan akuades.
b.             Permukaan prisma dibersihkan dengan menggunakan tissue.
c.       Pada bagian lensa dilihat apakah sudah berwarna biru secara keseluruhan (menandakan skala sudah berada di posisi 0) dengan cara diteropong.
d.             Air sampel diteteskan pada permukaan prisma kemudian ditutup.
e.              Dilihat batas air dan diperhatikan skala yang dicapai dengan cara diarahkan ke arah sinar matahari.
f.              Pengambilan sampel sebanyak 2 kali selama 15 menit.
g.             Hasil di catat.



III.        HASIL DAN PEMBAHASAN
3.1         Hasil
Tabel 1. Hasil pengamatan salinitas perairan Segara Anakan
Waktu
Salinitas (ppt)
Waktu
Salinitas (ppt)
15’
29
105’
24
30
25
30’
29
120’
21
28
20
45’
28
135’
21
29
22
60’
28
150’
22
28
23
75’
26
165’
24
25
24
90’
25
180’
28
25
28

                            
Grafik 1. Sebaran longitudinal salinitas perairan Segara Anakan
3.2         Pembahasan
Salinitas adalah kadar garam terlarut dalam air. Satuan salinitas adalah per mil (‰), yaitu jumlah berat total (gr) material padat seperti NaCl yang terkandung dalam 1000 gram air laut (Wibisono, 2004 dalam Himmaty, 2013). Air laut, air payau, dan air tawar memiliki tingkat salinitas yang berbeda, yang sering dinyatakan dengan konsentrasi total padatan terlarut (Yaningsih, 2014).
Berdasarkan hasil pengamatan yang telah dilakukan didapat bahwa pola longitudinal salinitas di perairan Segara Anakan sangat bervariasi mulai dari selatan yang merupakan laguna Segara Anakan hingga utara yang merupakan rawa mangrove. Salinitas dimulai dari laguna Segara Anakan secara bertahap terjadi penurunan, kemudian peningkatan di akhir stasiun pengamatan. Salinitas yang didapat pada saat pertama kali pengambilan sampel yaitu berkisar 29-30 ppt, kemudian mengalami penurunan sampai dengan salinitas kisaran 20-21 ppt, kan tetapi setelah itu mengalami kenaikan kembali sampai dengan 28 ppt. Berdasarkan teori bahwa hal ini berarti pola longitudinal tersebut menunjukkan perairan yang ditelusuri yaitu mulai dari perairan laut ke perairan payau lalu ke perairan laut kembali. Sebagaimana pernyataan Apriani dan Wesen (2010) bahwa air payau adalah air yang salinitasnya lebih rendah dari pada salinitas rata-rata air laut normal (<35 permil) dan lebih tinggi dari pada 0,5 permil yang terjadi karena pencampuran antara air laut dengan air tawar baik secara alamiah maupun buatan.
Perbedaan salinitas di perairan Segara Anakan, selain disebabkan perbedaan jenis perairan, juga disebabkan oleh faktor fisika kimia. Menurut Nontji (2007) sebaran salinitas dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti pola sirkulasi air, penguapan (evaporasi), curah hujan (presipitasi), dan aliran sungai (run off) yang ada di sekitarnya. Sedangkan menurut Stewart (2002) dalam Furqon (2007) bahwa sebaran salinitas di perairan estuari sangat dipengaruhi oleh kedalaman, arus pasang surut, aliran permukaan, penguapan dan sumbangan jumlah air tawar yang masuk ke perairan laut.
IV.        KESIMPULAN DAN SARAN
4.1         Kesimpulan
Sebagaimana pernyataan Apriani dan Wesen (2010) bahwa air payau adalah air yang salinitasnya lebih rendah dari pada salinitas rata-rata air laut normal dan lebih tinggi daripada air tawar. Oleh karena itu, pola longitudinal faktor fisika kimia kunci dalam hal ini salinitas di Segara Anakan yaitu dimulai dengan salinitas berkisar 29-30 ppt, kemudian turun sampai dengan kisaran 20-21 ppt, lalu naik kembali sampai dengan 28 ppt.
4.2         Saran
Untuk praktikum selanjutnya disarankan agar saat menggunakan alat hand refraktometer diharapkan lebih teliti dalam menentukan besar salinitas air yang diamati dan untuk ke depannya agar lebih jelas mekanisme pengamatannya supaya didapat data  yang lebih baik dan dapat dipertanggung jawabkan.



4.3          
DAFTAR PUSTAKA
Apriani, Ratih S. dan Wesen, Putu. 2010. Penurunan Salinitas Air Payau Dengan Menggunakan Resin Penukar Ion. Envirotek : Jurnal Ilmiah Teknik Lingkungan, Vol. 2 No. 1: 64-77.
Furqon Aziz, M. 2007. Tipe Eatuari Binuangeun (Banten) Berdasarkan Distribusi Suhu dan Salinitas Perairan. Oseanologi dan Limnologi. Indonesia.
Himmaty, I., dan Endarko, E. 2013. Pembuatan Elektroda Dan Perancangan Sistem Capacitive Deionization Untuk Mengurangi Kadar Garam Pada Larutan Sodium Clorida (NaCl). Berkala Fisika, Vol. 16 No. 3: 67-74.
Indah Sari, C., Surbakti, H., & Fauziyah, F. (2013). Pola Sebaran Salinitas dengan Model Numerik Dua Dimensi di Muara Sungai Musi. Maspari Journal, Vol. 5 No. 2.
Nontji, A. 2007. Laut Nusantara. Jakarta: Djambatan
Pribadi, R., Hartati, R., & Suryono, C. A. 2010. Komposisi Jenis dan Distribusi Gastropoda di Kawasan Hutan Mangrove Segara Anakan Cilacap. Ilmu Kelautan: Indonesian Journal of Marine Sciences, Vol. 14 No. 2: 102-111.
Yaningsih, I., & Istanto, T. (2014). Studi eksperimental pengaruh laju aliran massa udara terhadap produktivitas air tawar unit desalinasi berbasis pompa kalor dengan menggunakan proses humidifikasi dan dehumidifikasi. In Prosiding Seminar Nasional Sains Dan Teknologi Fakultas Teknik, Vol. 1 No. 1: 7-12.

No comments:

Post a Comment